Inggris Masih Belum Bisa Menjadi Juara Piala Dunia

Inggris Masih Belum Bisa Menjadi Juara Piala Dunia – Bisa saja sepakbola Inggris akan selama-lamanya terjerat dalam romantisme Piala Dunia 1966. Ia yaitu rujukan yg prima serta cuma satu. Karenanya, membawa pulang sepakbola ke tanah kelahiran seperti yg dilaksanakan Geoff Hurst dkk yaitu yang diimpikan langgeng pesepakbola Inggris dari generasi ke generasi.

Kita tidak butuh lagi curiga masalah ini. Namun, lagi serta lagi sepakbola demikian bengal, senantiasa saja malas mudik bersama dengan mereka. Ini dapat tidak butuh disangsikan, bahkan juga udah berubah menjadi seperti kepastian.

Dahulu mereka miliki Gary Winston Lineker. Si raja gol, yg namanya dipelesetkan dengan bahagia serta bangga oleh mereka berubah menjadi Gary Win-eker, juga Gary Goal! Di Meksiko 1986, the killer with the baby face berubah menjadi top score dengan 6 buah gol. Namun si boncel El Diego mempecundangi mereka dalam pertandingan luar biasa di partai perempatfinal dengan Gol Tangan Tuhan serta The Goal of the Century.

Empat tahun lantas di Italia, Three Lions melesat ke set semi final dengan gemintang. ” La la la. Football’s coming home, dee, dee, dee. Come on, come on England. For God’s sake England, come on! ” seperti itulah nyanyian itu bergemuruh di Stadion Delle Alpi, Turin.

Maklum, tidak cuman Lineker, disaat itu mereka miliki jejeran bintang lainnya. Gambar Paul ” Gazza ” Gascoigne, Chris Waddle, David Platt, serta Bryan Robson muncul dimana saja. Akan tetapi lagi-lagi mereka mesti mewek tidak kalah pilunya. Kesempatan ini kalah beradu penalti 3-4, serta tidak tanggung-tanggung dari musuh langgeng mereka dalam sepakbola : Jerman Barat!

Itu juga suatu laga yg cukuplah meradang. Hari itu 4 Juli 1990, dihadapan 62. 628 pemirsa yg padati Delle Alpi, Jerman Barat unggul terlebih dulu di menit ke-60 melalui Andreas Brehme serta si Gary Goal sukses menyamakan posisi di menit ke-80. Namun selama extra time, nyatanya mereka tidak bisa pakai kesempatan yg hadir terus-menerus. Hasilnya, Stuart Pearce serta Chris Waddle yg tidak berhasil menjalankan penalti juga cuma dapat menangis sekalian menutupi muka.

” Saya tidak dapat bicara dengan mereka. Begitu berat menuturkan suatu pada mereka. Pada akhirnya, karena saya tidak bisa memandang muka mereka, saya cuma dapat menepuk pundak mereka, serta saya menyebutkan, sudahlah, rasa sedih ini yaitu sisi dari sepakbola, ” demikian kenang Bobby Robson sang pelatih. Konon Pearce makan waktu enam tahun buat melupakan kesialannya.

Toh, beberapa orang lantas tidak cuma mengingat pertandingan di Turin bersama dengan mewek-nya Pearce serta Waddle. Namun juga mewek-nya Gazza, si badut tukang minum yg bertobat jadi pemakan coklat itu, yg tertangkap camera selepas ia terima kartu kuning di menit ke-99. Kekalahan ini pulalah yg melahirkan perkataan populer Gary Lineker yg acapkali jadikan quote itu : ” Football is a sederhana game. Twenty-two men chase a ball for 90 minutes and at the end, the Germans always win. “

Ya, kesialan terlihat memang senantiasa mengikuti perjalanan Inggris di kejuaraan Piala Dunia. Tahun 1998 di Perancis, histori kembali berulang. Serta lagi mereka mesti tersisih karena kalah beradu penalti. Kesempatan ini oleh musuh bebuyutan lainnya : Argentina. Pertandingan perdelapan-final di Stade Geoffroy-Guichard, Saint Etienne itu disebut-sebut jadi satu diantaranya laga sangat ikonik dalam pentas World Cup.

Duel panas berjalan dari sejak awal, sampai wasit Kim Milton Nietson mesti mengganjar ke dua team dengan hukuman penalti pada 10 menit set pertama yg sukses dilaksanakan Gabriel Batistuta serta Alan Shearer. Dalam menit ke-16, Michael Owen si boncel Tiga Singa membuat gol yg jadi legenda dengan melalui beberapa pemain La Albiceleste. Serta Javier Zanneti lantas membalasnya pada injury time.

Insiden berlangsung di dalam lapangan dalam pertandingan ini. Diego Simeone menabrak David Beckham dari belakang kala mau berebutan bola. Beckham nyungsep serta wasit meniup pluit siap-siap mau keluarkan kartu kuning pada Simeone. Namun, masih juga dalam tempat tengkurap di lapangan, Beckham lantas angkat kakinya menjegal Simeone sampai turut terjatuh. Nietson langsung mencabut kartu merah, mengusir Beckham keluar dari lapangan. Laga itu selesai dengan kemenangan 4-3 buat Team Tango sesudah Ince serta Batty tidak bisa menunaikan pekerjaannya jadi pelaksana eksekusi.

Ya mulai sejak tersebut, Anda kenal, beradu penalti seakan-akan berubah menjadi sumpah langgeng buat The Three Lions dari kejuaraan ke kejuaraan. Ia yaitu momok yg demikian menakutkan dalam tiap-tiap acara Piala Dunia ataupun Piala Eropa. Sekalinya mereka mempunyai seseorang bintang sekaliber David Beckham dan Wayne Rooney, drama 12 cocok itu tetap harus jadi batu sandungan buat Inggris buat membopong sepakbola kembali lagi pangkuan ibunda.

Bagaimana mereka tidak mempercayainya? Kalau di Jerman 2006 sumpah itu lagi-lagi mesti mewujud terlampau fakta.

Berjumpa Portugal di set delapan besar, ke dua kesebelasan imbang 0-0 sampai 120 menit. Serta kesempatan ini Rooney lah yg diusir oleh wasit di menit ke-62 sesudah ia menggerakkan Cristian Ronaldo. Perbuatannya yg hampir menyulut kekacauan antar pemain itu diawali disaat ia beranjak alat vital Ricardo Carvalho kala berduel merebutkan bola. Wasit akan memutus memberikan sepakan bebas buat Portugal, namun Ronalda menganggapnya ketetapan itu terlalu enteng.

Di Veltins Ajang hari itu, kalah beradu penalti 1-3 dari Selecao das Quinas juga memaksa mereka buat mudik lebih awal.

***

Ya, moment indah Piala Dunia 1966 bisa saja udah memerangkap sepakbola Inggris selama-lamanya.

Itu penyebab, ” Roh Piala Dunia 1966 ” kata Terry Venables yaitu ” pemain ketigabelas ” buat Three Lions di mana saja mereka beraksi buat membawa pulang sepakbola. Ditambah lagi kalau itu berjalan di peremputan suci Stadion Wembley.

Bagaimana tidak. Di Wembley lah, 52 tahun yang lalu, sepakbola buat pertama juga sekaligus yg terakhirnya pulang ke rumah. Buat rakyat Inggris, kemenangan itu yaitu pemulihan ” the old glory of England ” juga sekaligus pembalasan sakit hati mereka atas serangan hawa Jerman yg leburkan beberapa Stadion Wembley pada tahun 1944.

Karena itu layaknya Diego Maradona buat rakyat Argentina ; buat orang Inggris, Geoff Hurst yaitu pahlawan prima atas gol kontroversialnya yg tidak sempat disadari Jerman itu. Serta orang Jerman juga melihat gol ” Teka-teki Wembley ” seperti orang Inggris sendiri melihat gol ” Hand of Cheat ” -nya Maradona.

” Kita udah kalah dengan score 2-2, ” seperti itulah sinisme di golongan orang Jerman yg udah mashyur. ” Lebih baik berubah menjadi juara ke dua yg baik dibanding berubah menjadi juara pertama yg buruk, ” ujar pemain Jerman Helmut Schoen. Tidak kalah mashyur.

***

SEKARANG 52 tahun lantas. Haters Inggris, para pesimis serta pencibir sinis bisa saja terus mencela nyanyian ” Football is coming home ” yg bergaung lagi di Rusia sesudah Gareth Southgate mencatatkan dianya dalam histori jadi manajer ke-3 yg bisa mengantar Three Lions ke semi final Piala Dunia. Akan tetapi supporter Inggris tidak cuma miliki Harry Kane, sekarang tim kebanggaan mereka bahkan juga sukses mematahkan sumpah beradu penalti yg menghantui mereka beberapa puluh tahun itu.